Mendalami Hati

Mengeluh. Bersedih hati. Yah..itulah yang kualami akhir2 ini.

Sungguh kusesali perasaan2 itu muncul dari permukaan diriku.

Seharusnya biarkan perasaan2 itu tetap tertanam di dalam hati.

Kasihan uda nanda. Selalu menjadi tempat curahan hatiku.

Seharusnya aku harus bisa memilah-milah mana yang harus kucurahkan dan mana yang tidak. Atau setidaknya menunda untuk dicurahkan.

Aku menyesali kejadian siang ini.

Tak seharusnya kuceritakan kegalau-anku pada uda.

Semalaman bekerja dan mengaharpkan keceriaan dari ia,,malah suara tak bersemangat dan penuh kesedihan yang terdengar.

Sungguh aku menyesal. Ingin rasanya aku menampar diriku sendiri karena tidak bijak menghadapi uda. L

Aku coba untuk mendalami hati dan pikiranku. Apa sebenarnya yang trjadi pada diriku saat ini.

Jakarta. Itulah yang selalu aku keluhkan saat ini.

Kenapa? Karena disini lah, di jakarta ini lah,,semua kebahagiaanku rasanya terkuras habis! Bagai dementor yang menghisap seluruh kebahagiaan seseorang.

Aku lihat diriku sendiri. Rusak. Lemah. Itulah gambaran yang tepat selama aku tinggal di jakarta.

Panas. Membuat cairan tubuhku menguap lebih cepat. Kering, kusam dan kasar.

Panas membuat rambutku rontok., bercabang, dan kering. Betapa sayang aku sama rambutku. Rambut yang selama ini aku jaga bertahun-tahun, hanya keluargaku dan uda nanda yang boleh melihatnya. Tapi jakarta ini sekarang membuatnya rusak!!! Setiap hari lebih dari 20 lembar helaian rambutku jatuh dari akarnya.

Jakarta membuat nafsu makanku hilang. Setiap hari hanya makan sekali. Kecuali saat ika datang atau saat makan bersama niko, nafsu makan ku sedikit lebih tinggi daripada biasanya. Namuntetap tidak ada yang bisa mengalahkan nafsu makanku saat aku bersama uda nanda.

Ketiadaan nafsu makan ini dipicu karena sulitnya mendapatkan makanan yang enak, bersih, dan murah. Kalau ingin makan yang enak, ya belilah di setiabudi one atau Pasfes. Tapi ekonomiku tidak mendukung untuk bergaya hidup seperti itu.

Kalau pun memaksakan untuk makan, yah makan di sekitaran kosan, atau di sekitaran kantor (kalo lagi di kantor). Itu pun tetap mahal (kalau aku bandingkan dengan di bandung). Dan yang paling penting adalah : TAK menjamin itu BERSIH dan SEHAT.

Beberapa makanan di jakarta ini sudah mrusak saluran pencernaanku beberpa kali!!! Diare yang membuat cairan tubuhku berkurang dan perutku melilit.

Bahkan makanan dan udara di Jakarta ini Jahat terhadapku. Merusakku secara FISIK..!!!!!!!!!

Terkadang sempat membayangkan gimana yah rasanya kalo aku jadi teman2ku di kantor. Yang kosannya berAC, berTV kabel, dan berInternet 24 jam. Mungkin hal2 yang aku alami di atas tidak akan pernah terjadi. Yang mengalokasikan 40% dari gaji nya hanya untuk kosan. Dan hampir 30-40% nya untuk makan makanan enak,bersih,bergizi.

Sementara aku, hanya 10% aq alokasikan untuk tempat tinggal, 25% untuk makan, dan sisanya kuberikan mamahku untuk bekal menikah dan sebagian untuk adek2 dan sodaraku yang kurang beruntung.

Aku tinggal di tempat yang seadanya,namun sangat nyaman menurutku. Aku makan makanan yang seadanya. Semuanya serba seadanya.

Namun pikiran2 itu menghilang seketika kulihat orang2 di sekitar kosanku. Mereka hidup di rumah2 yang sangat sempit, berdesakan. Mungkin membeli Kipas punmereka tidak mampu. Mungkin rumahpun mereka cuman ngontrak. Mungkin mereka punmakan cuman sekali sehari, itu pun sangat-sangat seadanya dan bisa jadi jauh dari kata Bersih/Enak/atau Bergizi.

Aku bersyukur dengan kondisiku sekarang. Mereka jauh lebih merasakan ‘panas’nya jakarta dibanding yang kurasakan.

Sebenarnya aku tidak merasa kesulitan hidup dengan panas ini. Hanya saja, untuk kondisi2 tertentu,udara panas ini mendukungku untuk semakin tidak bisa berpikir dengan jernih. Seperti saat ini.

Setelah merenung dan mulai mencari2 sebenarnya apa yang membuat hati ini tidak tenang.

Ketakutan. Yah, Kekhawatiran dan ketakutan yang membuat hati ini tidak menentu.

Aku takut tidak mendapatkan beasiswa. Aku takut tidak bisa menghidupiku sendiri saat aku tidak punya pekerjaan lagi. Aku takut jika aku harus merepotkan lagi orang tua ku untuk membiayai hidupku. AKu takut jikalau aku bergantung pada orang lain, pada teman, pada sodara, pada uda, dan pada orang tua ku sendiri.

Bahkan untuk hal yang kecil pun aku bergantung sama uda. Sebut saja pindahan. Aku bergantung sama uda. Mungkin jika uangku banyak,aku bisa menyewa mobil dan membayar jasa orang untuk membantu ku pindahan. Mungkin jika aku banyak uang, aku bisa bolak-balik ke bandung untuk mencari kosan dan pindahan.

Aku bergantung sama orang lain. Aku meminta tolong teman2ku untuk mencarikan kosan agar aku tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk ke bandung.

Aku bergantung sama DIkti untuk membiayaiku kuliah. Aku tergantung sama dosenku untuk mencarikan beasiswa lain kalo beasiswa BU Dikti tidak aku terima.

Yah, masalah2ku adalah karena aku bergantung pada orang lain dan dari dulu aku selalu bermasalah dari segi ekonomi.

Kesimpulannya adalah : Aku takut Mimpi yang paling aku inginkan tidak bisa aku dapatkan. Mimpi untuk bisa mengajar sebagai seorang dosen.

Dan panas nya jakarta serta kehidupan yang sulit di jakarta ini lah yang membuatku semakin gelisah dan tidak nyaman. Dan ketiadaan uda – yang merupakan tempat aku mencurahkan segala isi hati- makin memperkeruh pikiranku.

Kesimpulannya adalah : Dari dulu, aku harus berusaha lebih keras lagi dulu mendapatkan sesuatu, untuk mengejar mimpiku.

Mimpi masuk ITB :  Aku harus berprestasi dulu di sekolah agar bisa masuk itb dengan jalur USM  beasiswa prestasi

Mimpi untuk s2 : Aku harus mengejar2 beasiswa dulu biar bisa sekolah

Mimpi untuk menikah dengan uda pun : Aku harus rela tidak langsung apoteker dan bekerja dulu demi bisa menabung.

Aku hanya ingin hidup mandiri. Tidak menggantungkan diri pada orang lain, pada uda,pada sodara, atau pada keluarga sekalipun.

Dan pada kenyataannya adalah aku tidak bisa!

Aku hanya makhluk Allah dengan banyak kekurangan.

Dan pada akhirnya, aku hanya bisa berdoa dan berserah diri sama Allah.

Yang bisa aku lakukan sekarang adalh, dengan segera meninggalkan kota yang memperburuk kondisi fisik dan pikiranku!  Sebenarnya aku bisa bertahan di Jakarta ini, (asalkan ada uda). Selama uda disini, Jakarta tidak lah buruk di mataku. Aku bahagia disini. Namun kenyataannya adalah, uda tidak selalu bisa ada.

Dengan di bandung, aku bisa dekat dengan sahabat2ku, dengan saudara dan keluargaku. Dan aku bisa lebih tenang dan menjernihkan pikiranku.

Maafkan aku Jakarta,,

Menjadikanmu kambing hitam atas segala masalah2 yang kuhadapi,

Tapi aku tidak bisa memaafkanmu karena memperburuk fisik dan memperkeruh pikiranku!!

Maafkan aku uda,,sudah membebanimu dengan masalah2ku…

Maafkan aku Ya Allah,,, tak seharusnya aq kufur nikmat,, diberi kehidupan yang lebih dari cukup, orang tua yang selalu mendukung dan menyayangi, dan kekasih yang menerima apa adanya,,

Maafkan aku yang lemah  ini, yang sudah menyerah dengan ujian hidup yang Engkau berikan…

Astaghfirullah…

Aku telah kufur nikmat-Mu..

Mulai sekarang,,aku tidak akan banyak mengeluh lagi. Uda tidak akan mendengar aku mengeluhkan dan menakutkan tentang ini lagi. Biarkan ia keluhkan dalam hati ia sendiri aja, sampai keadaan ini berakhir dengan berjalannya waktu, maka perasaan takut, galau dan khawatir ini juga akan hilang dengan sendiriny dari hati ia🙂

Bismillah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s